Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori
| Perubahan APBN untuk Cegah Risiko Terburuk | ![]() |
![]() |
![]() |
| Jumat, 23 Januari 2009 08.14 | |
| Pemerintah menegaskan, perubahan postur belanja APBN 2009 dilakukan untuk menghindari risiko akibat turbulensi perekonomian global yang lebih buruk bagi ekonomi dalam negeri. Kita semua sedang dihadapkan pada ancaman krisis, seiring pelemahan ekonomi dunia. Kalau nanti growth kita diamkan begitu saja, angka pengangguran bisa bertambah lebih besar,” ujar Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di Jakarta kemarin. Menurut Paskah, bila kecenderungan melambatnya perekonomian dalam negeri tidak segera diantisipasi, pertumbuhan ekonomi dikhawatirkan akan anjlok hingga ke level 4,5%. Berdasarkan hitungan Bappenas, bila pertumbuhan ekonomi mencapai level tersebut, jumlah pengangguran bakal membengkak hingga level 9,3%.
Namun, kata dia, bila gejolak pertumbuhan ekonomi bisa diantisipasi sejak awal, pertumbuhan ekonomi di dalam negeri minimal terjaga pada level 5,5%. Maka, tambahnya, angka pengangguran di dalam negeri diharapkan bisa ditekan di level 7,9%. Paskah mengungkapkan, gejolak perlambatan ekonomi yang diperkirakan memuncak tahun ini bakal menekan penerimaan negara baik dari pajak maupun pendapatan nonpajak. Kondisi ini bakal berpengaruh signifikan terhadap postur belanja pemerintah sepanjang 2009. Pemerintah,katanya,berupavamempertahankanstruk-t ni belanja dengan tidak memangkas anggaran yang telah dialokasikan, meski penerimaan negara tahun ini bakal tertekan. Ini terlihat dengan adanya pelebaran defisit APBN 2009 hingga Rpl32 triliun atau 2,5% terhadap PDB. Terkait perubahan berbagai asumsi makro APBN 2009, ungkapnya, bakal difokuskan pada tiga indikator utama. Pertama, pertumbuhan ekonomi diturunkan pada level 4,5-5,5% dari sebelumnya 6,0%. Kedua, harga minyak Indonesia rata-rata (Indonesia Crude PriceflC?) USD4O-5O per baxel,dari sebelumnya USD80.Keriga.nil ai tukar rupiah Rp 11.000 per dolar AS, sebelumnya Rp9.400 per dolar AS. Atas dasar itu, lanjutnya, pemerintah berencana mengajukan perubahan postur APBN 2009 kepada DPR dalam waktu dekat, dengan mengacu pada pasal 23 UU APBN 2009. Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa sebelumnya mengatakan,pemerintah seharusnya menunggu realisasi anggaran APBN 2009 minimal dalam satu kuartal. Tujuannya agar usulan perubahan postur APBN bisa dilakukan dengan alasan yang kuat. Kepala Ekonom PT BNI Tbk A Tony Prasetyantono berpendapat, asumsi-asumsi APBN 2009 seperti pertumbuhan ekonomi, kurs rupiah, dan harga minyak dunia harus secepatnya diubah. Menurut dia,berbagai indikator ini sudah semakin tidak realistis dengan berbagai perkembangan makroekonomi saat ini. “Memang idealnya harus dipantau sampai satu triwulan. Namun dengan tren yangsekarang sudah semakin jelas, menurut saya tidak usah menunggu satu triwulan. Asumsi baru harus ditetapkan daripada menjadi bahan tertawaan alias tidak kredibel,” ujarnya. |
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>











