Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori
Kata cokelat berasal dari kata xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan cokelat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528 dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. Cokelat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik cokelat di Massachusetts – Amerika.
Dalam perkembangannya, cokelat tidak hanya menjadi minuman tetapi juga menjadi cemilan yang disukai anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Selain rasanya enak, cokelat ternyata berkhasiat membuat umur seseorang menjadi lebih panjang. Suatu studi epidemiologis telah dilakukan pada mahasiswa Universitas Harvard yang terdaftar antara tahun 1916-1950. Dengan menggunakan food frequency questionnaire berhasil dikumpulkan informasi tentang kebiasaan makan permen atau cokelat pada mahasiswa Universitas Harvard.
Meskipun CWS Exclusive cokelat ini telah diadakan untuk kedua kalinya ternyata tidak mengurangi antusias dan rasa ingin tahu para peserta. Dari si penggila cokelat, si hobi masak, sampai yang ingin berbisnis cokelat – semua giat mengorek ilmu sang chef.
Kurang dari pukul setengah sepuluh ‘teng’, para peserta telah memenuhi Meeting Centre Hotel JW Marriot Jakarta. Seperti biasa, acara dibuka dengan sambutan singkat oleh Mba Odilia Winneke dan chef Bruno tentunya. “Selamat pagi semua,” ujar chef Bruno dalam bahasa Indonesia yang agak terpatah-patah kepada para peserta. Wah-wah…sampai-sampai sang chef ikut tertular semangat para peserta, terutama para peserta pria yang selalu ‘mejeng’ persis di depan sang chef. Mereka Bapak Adi, Wahyudi dan Herry yang ternyata khusus datang langsung dari Makassar.
Pertama-tama sang chef memberikan pengertian tentang ‘apa itu cokelat’ hingga ‘perbedaan dark chocolate, milk chocolate dan white chocolate’. Semuanya dikupas-tuntas! Setelah itu, barulah chef Bruno memberikan urutan jenis-jenis cokelat yang akan dipraktekkan para peserta di sebuah papan beralas kertas.
Alhasil, pada beberapa peserta yang awalnya terlihat malu-malu kini menjadi lebih berani bertanya. “Chef kok kenapa ditambahin butter sih?” atau “Chef dimana saya bisa beli glukosa, apakah sama seperti gula cair?” Begitulah sebagian pertanyaan para peserta. Dengan sabar sang chef pun menjawab satu per satu pertanyaan para peserta. Bahkan beberapa peserta secara bergantian membantu sang chef mengaduk, melelehkan, dan mencicipi cokelat. Wahh… enaknya!
Yang tak kalah seru adalah saat chef Bruno memperagakan proses tempering. “Ada yang tahu untuk apa proses tempering ini?” tanya sang chef. Beberapa peserta mendapat pujian dari sang chef karena berhasil menjawabnya dengan benar. “Ya, sebenarnya proses tempering ini untuk menurunkan suhu cokelat dengan cara manual agar cokelat terlihat lebih shiny.” Terang chef asal Swiss ini.
Akhirnya tibalah saatnya bagi para peserta untuk memamerkan kebolehannya. Dibagi menjadi empat kelompok, para peserta langsung sibuk memasang atribut memasak – dari celemek, sarung tangan, hingga topi. “Duh…ini kok cokelatnya lengket terus sih?” atau “Kok punyaku enggak bisa bulat ya… seperti punya chef,” itulah sebagian komentar para peserta. “Dibulatkannya jangan terlalu lama bu agar tidak menempel,” ujar chef Bruno sambil memperagakan caranya. Agar tak kerepotan chef Bruno dibantu oleh dua orang assistennya yaitu chef Imron dan chef Selamet. Dengan sabar para chef ini membantu dan menjawab pertanyaan para peserta yang bertubi-tubi.
Setelah proses membulatkan cokelat truffle, acara disela dengan pembuatan hot chocolate oleh sang chef. Hot chocolate yang mengepul panas akhirnya menjadi pelepas penat para peserta, sambil menggigit sepotong donat. “Slurpp… hmm enak chef,” puji para peserta yang tengah asyik menyeruput minuman ini. Nah, setelah itu barulah proses pembuatan Pick Nick Chocolate yang menguji kreativitas para peserta pun dimulai. Ada yang membuat ukiran nama, bentuk, rumah, hati dan lain sebagainya.
Tak terasa sudah hampir empat jam lamanya para peserta kini asyik ‘bermain’ cokelat dan menyerap ilmu dari sang chef. Semua sibuk mengemasi hasil karyanya masing-masing ke dalam box yang telah dipersiapkan. Stand cokelat Lindt yang memberi special price tak lagi diserbu oleh para peserta. Alhasil mereka kerepotan mengemasi dan menenteng kotak-kotak cokelat yang memenuhi tangan.
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>








